Selasa, 05 Agustus 2008

MOTIF BATIK
















Batik Naga







Batik sawat



























Batik solo




















Parang Rusak corak Yogya
















Parang Rusak Solo

































ABOUT BATIK SOLO

Solo, the second sultanat.
Solo ( now named Surakarta) was one of the two sultanates, with all the traditions and customs of their courts, and the center of Hindu-Javanese culture.
The Kraton (or court) was not only the residence of the kings, but also the center of government, religion and culture.this was reflected in the art of the region, especially in its batiks: in the motifs as well as in the colors, and its special rules governing the wearing of batik. In solo there were special rules about wearing batik. These had to do with- the social position of the wearer
- the occasion on which the batik was worn or used, in connection with the meaning and hope or wish symbolized by the motif.
The cloth on the left is a detail of a kain panjang which was made in the workshop of Hardjonagoro in Surakarta in the early 80's. The motif combine influences of several region, but the overall style and the color are typical of Solo design The 'kain panjang' means 'long cloth'. It is a piece of cloth of approximately one by two and a half metre. It is used as the sarong, but the kain panjang is regarded as being more formal.




The motifs of the Solo design are related to the Hindu-Javanese culture: the Sawat symbol of the crown or highest power, the Meru symbol of mountain or earth, the Naga symbol of the water, the Burung symbol of the wind or upper world and the Lidah Api symbol of the fire.

In Solo there were special rules about wearing of batik. 1) the social position of the wearer, 2) the occasion on which the batik was worn or used. This was in connection with the meaning and hope or wish symbolized by the motif.
Batik Sawat or Lar
Batik Naga








Some of the traditional motifs worn on certain occasions:
When making a proposal of marriage, the wali (male relative of the girl), wears a batik with the Satria Manah motif, denoting that when a satria or knight, took aim with his bow and arrow, the arrow would be sure to hit the target, meaning, of course that the proposal will be accepted. the family of the girl receiving the proposal wears batik with Semen Rante motif.
Rante, meaning chain symbolizes a close and binding relationship in conformity with the belief of Asians that breaking-off a relationship would damage the good name of the woman.

Senin, 04 Agustus 2008

Minggu, 03 Agustus 2008

SELAMAT DATANG DI TOKO BATIK ONLINE

Buat rekan semua say mengucapkan Selamat datang di toko Batik Solo Online. Kami menyediakan informaansi mengenai Batik Solo , dan juga menjembatani kebutuhan dari rekan semua untuk memiliki Baju-baju ( Pria - Wanita, Anak-Dewasa Batik SOLO , dengan KUALITAS YANG BAGUS, dan tentunya dengan harga yang sangat murah.
Kenapa sangat murah, karena kami selain sebagai produksi kami juga melakukan kerjasama dengan pengrajin-pengrajin batik di SOLO tanpa lewat perantara lagi.
Mengenai KUALITAS , kami sangat peduli sehingga kami sangat menjaga mutu,baik kain maupun pengerjaannya, sehingga hasilnya juga merupakan produk yang berkualis.
Kami menyediakan Baik BATIK TULIS maupun BATIK PRINTING.
Untuk lebih lanjut silakan mengunjungi contoh ( Koleksi ) Batik di : http://www.batiksolo-galery.blogspot.com/, atau hubungi kami untuk koleksi lainnya dan untuk pemesanan, email : Batiksolo.online@gmail.com.

Kami menyediakan, Anda memilih, Anda pesan, kami Menjual....Hub. kami unutk memesan.

Jumat, 01 Agustus 2008

SEJARAH BATIK SOLO DAN YOGYA

Sejarah Batik Solo dan Yogya
Dari kerjaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta sekitamya abad 17,18 dan 19, batik kemudian berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Awalnya batik hanya sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian. Namun perkembangan selanjutnya, pleh masyarakat batik dikembangkan menjadi komoditi perdagamgan
Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”.
Sedangkan Asal-usul pembatikan didaerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan raj any a Panembahan Senopati. Daerah pembatikan pertama ialah didesa Plered. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu. Dari sini pembatikan meluas pada trap pertama pada keluarga kraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombonasi batik dan lurik. Oleh karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga kraton dan ditiru oleh rakyat dan akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok kraton.
Akibat dari peperangan waktu zaman dahulu baik antara keluarga raja-raja maupun antara penjajahan Belanda dahulu, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap didaerah-daerah baru antara lain ke Banyumas, Pekalongan, dan kedaerah Timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainy a. Meluasny a daerah pembatikan ini sampai kedaerah-daerah itu menurut perkembangan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimulai abad ke-18. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru itu.
Perang Pangeran Diponegoro melawan Belanda, mendesak sang pangeran dan keluarganya serta para pengikutnya harus meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikut pangeran Diponegoro mengembangkan batik.
Ke Timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Selain itu juga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkem-bang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon.

sumber: GKBI info